[Review] Stip & Pensil – Komedi Satir Yang Luput Dimaksimalkan

Stip & PensilSudah lama saya menanti Stip & Pensil dirilis di bioskop-bioskop dekat kos. Pertama karena ada nama Joko Anwar dan Ernest Prakasa di dalamnya. Joko Anwar adalah pekarya sinema yang saya selalu kagumi karyanya dan Ernest Prakasa adalah pekarya sinema baru yang karirnya belum pernah mengecewakan. Kedua karena stip dan pensil jelas lekat dengan masa sekolah, latar yang waktu itu belum banyak dikerjakan dengan baik dalam karya-karya sinema kita sebelum kemudian muncul Galih dan Ratna, Dear Nathan, dan Ada Cinta di SMA. Maka, saat akhirnya ia dirilis, saya bergegas menonton di hari pertama.

 

Stip & Pensil bercerita mengenai Toni (Ernest Prakasa), Agi (Ardit Erwandha), Saras (Indah Permatasari), dan Bubu (Tatjana Saphira) yang bersahabat di SMA. Mereka berempat adalah anak dari keluarga yang cukup tinggi kemampuan ekonominya. Suatu hari, pertemuan mereka dengan anak jalanan bernama Ucok (M. Iqbal Sulaiman) membawa mereka kepada petualangan mendirikan sekolah darurat bagi Ucok dan teman-teman. Dari ide ini, Stip & Pensil punya potensi yang cukup besar untuk menjadi sebuah film yang berbeda.

 

Bagian awal Stip & Pensil berhasil memanfaatkan potensi itu dengan baik. Pertemuan dengan Ucok dan karakter-karakter masyarakat di tempat tinggalnya sangat menarik diikuti. Hal ini tentu tidak lepas dari kemampuan para pemeran yang menghidupinya, terutama M. Iqbal Sulaiman, Gita Bhebhita, dan Arie Kriting. Pada bagian ini, naskah yang ditulis oleh Joko Anwar pun masih dapat mendasari kisah dengan baik, kecuali pada bagian komedi yang punchlinenya lebih sering luput memecah tawa.

 

Sayangnya, ketika memasuki konflik, Joko Anwar mulai kehilangan daya fokusnya. Beberapa bagian terasa sangat dipaksakan masuk ke dalam cerita. Dua contohnya adalah bagian cinta-cintaan serta obrolan soal ‘digusur’ dan ‘dipindahkan’ yang rasanya akan lebih baik diganti dengan pilihan cerita lain. Pada akhirnya, beberapa bagian yang dipaksa masuk tersebut membuat diskusi mengenai sekolah bagi anak-anak jalanan dan permasalahan-permasalahan di sekitarnya tidak mendapat penyelesaian yang matang.

 

Beberapa hal mengenai penggusuran yang dimasukkan oleh Joko Anwar sepertinya ditujukan sebagai kritik dan potret sosial masyarakat Jakarta. Dan biasanya, kritik-protet sosial yang ada dalam karya-karya Joko Anwar memang berjalan dengan baik untuk memantik perenungan atau diskusi setelah keluar dari ruang pemutaran. Namun, kali ini Joko Anwar tidak terlalu berhasil melakukannya karena pada beberapa bagian, walau tidak diniatkan, Stip & Pensil terasa menempatkan masyarakat marjinal Jakarta dalam posisi yang kurang baik, seperti yang sering terjadi dalam cara pandang masyarakat menengah perkotaaan pada permasalahan sosial di sekitarnya. Dan walau hal itu dituturkan dalam konteks komedi, terkadang yang tampil di layar tampak seperti sebuah olok-olok sosial.

 

Beranjak dari bagian akhir cerita, sebenarnya kelemahan dalam komedi dapat terbantu jika pengadeganannya dilakukan dengan tepat. Sayangnya, arahan Ardy Octaviand seringkali kurang sesuai dengan kebutuhan komedi kali ini, berbeda dengan 3 Dara yang dapat dibilang lebih berhasil merangkai kelucuan. Lalu, Ernest dan Ardit sebagai dua pemeran utama juga kurang berhasil menampilkan kelucuan tersebut dengan penampilannya. Selain juga penampilan fisik keduanya yang sebenarnya kurang sesuai untuk peran anak SMA.

 

Kelemahan Stip & Pensil dalam komedi dan bagian akhir cerita sebenarnya cukup mengagetkan bagi saya. Terlebih, karena sejak awal nama Joko Anwar dan Ernest Prakasa sepertinya akan membuat film ini berhasil. Stip & Pensil menjadi komedi satir yang luput dimaksimalkan. Beruntung, masih ada beberapa perbincangan yang dapat menghangatkan hati dengan natural. Perbincangan tersebut dapat saya bawa pulang sebagai kesan yang baik dan cukup menyenangkan.

 

★★1/2

 

Baca juga: Review Kartini

Tinggalkan Balasan