[Review] Surau dan Silek – Silek dan Warisan Kehidupan

Surau dan SilekJauh-jauh saya pergi ke Slipi untuk menjumpai adek-adek jago silek dalam film yang menarik hati, Surau dan Silek. Menarik, karena film ini berlatar masyarakat Minang dan saya menghabiskan masa kecil sampai menjelang lulus SD di Pasaman, sebuah desa yang saat ini telah menjadi kota kabupaten, sekitar dua jam dari Padang. Menemui lagi masyarakat nun jauh sana setelah bertahun-tahun tidak bersua sudah cukup membuat saya bergembira. Maka, bersama seorang teman, duduklah saya di antara para penonton malam itu. Menjumpai Sumatera Barat.

 

Surau dan Silek merupakan film panjang bioskop pertama yang dikerjakan oleh Mahakarya Pictures dan Malin Films. Bercerita tentang tiga sahabat kecil, yaitu Adil (Muhammad Razi), Dayat (Bima Jousant), dan Kurip (Bintang Khairafi) yang mencintai silek (silat dalam bahasa Minang). Suatu hari, paman sekaligus guru silek mereka, Rustam (Gilang Dirga) memutuskan untuk merantau, seperti pemuda-pemuda Minang lainnya. Keputusan yang memulai petualangan Adil dan kawan-kawan mencari guru silek yang baru.

 

Saya tersenyum dan tertawa berkali-kali bersama Adil dan kawan-kawan. Petualangan mereka membawa saya kembali ke masa kecil di Pasaman. Lengkap dengan budaya masyarakat Minang yang sangat terasa kental di dalamnya. Menyambangi sekolah dengan cara belajarnya yang khas dan erat dengan syariat Islam. Berangkat salat berjamaah bersama-sama di waktu istirahat. Lalu, mendengar istilah-istilah yang sangat khas. Rasanya, saya benar-benar kembali ke masa kecil yang penuh warna.

 

Pengalaman itu tentu bisa hadir lebih maksimal karena penampilan Muhammad Razi, Bima Jousant, dan Bintang Khairafi yang brilian. Belakangan ini, saya tidak dapat terlalu terkesan dengan karakter utama anak-anak yang ada di karya sinema kita. Namun, mereka ini berbeda. Kita yang menemuinya akan percaya bahwa mereka benarlah anak SD berusia 11 tahun yang memang bersahabat sejak lama. Kita yakin karena tingkah, guyonan, pertengkaran, cara pandang, dan rajukan yang mereka tampilkan sepanjang petualangan. Puas nian saya melihat tingkah polah mereka dalam cerita.

 

Menonton Surau dan Silek adalah pengalaman yang berbeda dari kunjungan ke tanah Minang dalam karya sinema lain dengan karakter utama yang telah dewasa. Berbeda karena yang kita lihat dari Adil dan kawan-kawan merupakan budaya dalam karakter aslinya. Jujur. Sederhana dan apa adanya. Membicarakan budaya dengan mereka akan mengesampingkan pertimbangan-pertimbangan rumit yang biasanya hadir dalam percakapan budaya orang-orang dewasa. Dengannya, kita akan membaur dengan latar dalam film dengan lebih terbuka. Siap dengan perbincangan macam apa pun.

 

Melalui anak-anak tadi juga kita akan melihat sebuah pewarisan. Usaha untuk mencintai dan melanjutkan warisan yang kaya dan sesuai dengan kearifan daerah. Apa-apa yang diteruskan dan apa-apa yang ditinggalkan. Warisan yang terasa tulus dari orang tua kepada anak-anak penerus mereka. Dari sanalah kita akan merasakan harapan dan kebahagiaan. Pun petuah-petuah Minang yang jika didengarkan baik-baik akan memberikan sentuhan jiwa yang hangat dan mengesankan. Maka, ketika “salat, selawat, dan silek” itu dituturkan kepada Adil dan kawan-kawan, kita akan mengalami momen terbaik sepanjang film bergulir.

 

Kelemahan Surau dan Silek ada di kemampuannya untuk menggali lebih dalam beberapa persoalan di dalamnya. Satu hal yang menjadikan beberapa titik konflik terasa cukup lemah dinamikanya. Selain itu, beberapa karakter juga kurang terasa penting kehadirannya atau kurang berkembang sebagai bagian cerita. Hal ini juga kemudian memengaruhi transisi cerita yang pada beberapa bagian terasa kurang sempurna. Saya yakin, ini adalah pekerjaan yang dapat dibereskan Arief Malimudo pada karya yang berikutnya. Semoga.

 

Surau dan Silek pada akhirnya menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. Rasanya seperti menjejakkan kembali diri di tanah Minang dengan segala hal khasnya. Kehadirannya juga merupakan warna yang baik bagi perkembangan film daerah di lingkup nasional karena dikerjakan sebagian besar oleh putra-putra Minang sendiri, membicarakan tanah sendiri dengan tuturan yang mampu dimengerti. Lalu, mari menanti karya berikutnya dari nun jauh sana.

★★★1/2

 

 

Baca juga: Review Stip dan Pensil

Tinggalkan Balasan